Kamis, 03 Februari 2011

Mesir bergolak




 
Massa pendukung Presiden Hosni Mubarak dan massa penentangnya berhadap-hadapan di Lapangan Tahrir, Kairo, Rabu (2/2/2011).

Jupitter News _ Kairo- Bentrokan yang terjadi antara kelompok massa pro dan kontra Presiden Hosni Mubarak telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Jumlah korban yang tewas maupun luka-luka masih simpang siur mengingat kerusuhan masih terus berlangsung.
Menteri Kesehatan Mesir Ahmed Samih Farid mengatakan lima orang tewas dan 836 luka-luka dalam bentrok yang terjadi Rabu kemarin. Seperti dilansir Reuters, ia mengatakan, kebanyakan korban terkena lemparan batu dan sabetan logam dan kayu.
Namun, dokter di Mesir seperti dilansir stasiun televisi Al Jazeera mengatakan jumlah korban tewas mencapai 7 orang. Jumlah korban seluruhnya memang masih simpang siur mengingat bentrokan kedua kubu masih terus berlangsung hingga kini.
Massa pro Mubarak mendesak demonstran di Lapangan Tahrir, Kairo, sejak Selasa lalu dan bentrokan pecah pada Rabu sore hingga malam. Massa pro Mubarak menyerang para demonstran yang sebelumnya berlangsung damai menggunakan batu. Mereka juga sempat mendatangkan pasukan kuda dan onta untuk menghalau massa penentang Mubarak.
Tindakan kekerasan terhadap para demonstran ini dikecam sejumlah pihak termasuk Sekjen PBB Ban Ki-moon. Ia menyerukan kedua kelompok untuk mengakhiri cara-cara kekerasan.





Memanasnya situasi di Mesir berdampak besar bagi warga negara Indonesia (WNI) di negara itu, Rabu (2/2). Berbagai masalah menimpa mereka, dari terpisah dari orangtua hingga kehilangan pekerjaan. Dan semuanya bercampur di dalam peswata yang mengevakuasi mereka.
Afna dan Alla duduk diam di bangku pesawat. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pun mereka tidak mengerti kenapa harus pulang ke Indonesia, sedangkan orangtuanya masih di Mesir untuk mengurus dokumen-dokumen penting.



Di deretan kursi lain, puluhan anak-anak dan bayi terpaksa dievakuasi tanpa orangtua mereka. Ratusan warga negara Indonesia lain, baik tua maupun muda, juga mengalami kegundahan.

Tidak terkecuali Martina Siregar, wanita asal Medan, Sumatera Utara. Ia harus pulang, program S2 yang diikutinya hampir selesai. Hal itu juga dialami Endang. Ia meninggalkan bangku kuliah, bahkan dalam keadaan 


Para pengunjuk rasa berkumpul di sekitar Tahrir Square di Kairo, Minggu (30/1/2011), terhadap rezim Mubarak di tengah kekacauan yang terus meningkat.
Setelah sempat diblokir selama beberapa hari, akses internet di Mesir akhirnya kembali dibebaskan lagi. Jaringan telepon pun mulai pulih secara bertahap sejak Rabu (2/2/2011) tak lama setelah Presiden Hosni Mubarak mengeluarkan pernyataan politik bahwa ia tidak akan maju dalam pemilihan presiden September mendatang.



"Kabar baik, akses internet telah kembali di Mesir," tulis Google dalam akun Twitter resminya. "Layanan internet BlackBerru juga mulai aktif kembali," tulis Ben Wedeman, wartawan asing yang meliput di Mesir.
Internet dilaporkan mulai dapat diakses kembali sejak pukul 05.00 tadi pagi waktu setempat. Layanan pemantau trafik internet Renesys dan RIPE juga memperlihatkan lonjakan trafik yang tinggi dari Mesir setelah beberapa hari sempat tidak ada sinyal sama sekali.
"Situs-situs Bursa Saham mesir, Bank Komersial Internasional Mesir, MCDR, dan Kedutaan AS di Kairo kembali dapat diakses," tulis Renesys di blog resminya.




Pemerintah Hosni Mubarak sebelumnya dikritik keras karena memblokir Facebook, Twitter, bahkan jaringan internet seluruhnya. Hal tersebut diduga untuk membungkam aksi para aktivis prodemokrasi yang menuntut Presiden Hosni Mubarak turun dari jabatannya.

 

Orangtua mahasiswa asal Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang menuntut ilmu di Mesir melakukan kontak dengan putra putri mereka melalui jejaring sosial "Facebook". Hal itu diungkapkan salah seorang orangtua mahasiswa Kalsel yang kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, Milhan Rusli.      "Kami sudah dua kali melakukan komunikasi yakni melalui telepon langsung dan melalui pesan yang dikirimkan lewat facebook," ujarnya.      Menurut dia, komunikasi melalui telepon dilakukan dengan sang anak yang bernama Muhammad Firdauz Sinuzula pada Selasa (1/2/2011). 


Namun pembicaraan berlangsung singkat hanya sekitar satu menit. Sementara, komunikasi melalui jaringan internet pesan facebook diterimanya Rabu (2/2/2011) malam berisi pesan mengenai kondisi anak keduanya yang dalam keadaan baik-baik.       "Pesannya berisi kondisi dia yang baik-baik saja dan tengah berada di penampungan bersama mahasiswa dan warga Indonesia lainnya di suatu tempat di Mesir," ungkapnya.       Dikatakan, informasi lain yang disampaikan sang anak yang menuntut ilmu di Fakultas Dirosah Islamiyah semester III adalah rencana pemulangan para mahasiswa dan seluruh warga Indonesia yang dilakukan secara bertahap.       "Kemungkinan seluruh mahasiswa dan warga Indonesia dipulangkan karena kondisi Mesir yang masih belum menentu. Tetapi kapan jadwal pemulangan, dia belum mengetahui," ujar dia.       Sesuai data tahun 2008, menurut Milhan, jumlah mahasiswa Kalsel yang belajar di Universitas Al Azhar dan tempat pendidikan lain di Mesir sekitar 200 orang. Namun, secara pasti belum diketahui data terbaru, karena ada sejumlah mahasiswa yang berangkat ke Mesir secara mandiri. 


Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin berharap, para mahasiswa asal provinsinya dan seluruh WNI dalam keadaan aman dan selamat selama pergolakan yang terjadi di negara tersebut.
 
Para pendukung Presiden Hosni Mubarak terlibat bentrok dengan massa demonstran di Lapangan Tahrir, kairo, Rabu (2/2/2011).

Lebih dari 1.500 orang terluka di Kairo, Rabu (2/2/2011), akibat bentrokan antara para pendukung dan penentang Presiden Mesir Hosni Mubarak. Hal itu dikatakan seorang dokter di sebuah klinik darurat yang didirikan di tempat berlangsungnya bentrokan.  
"Luka-luka yang dialami demonstran itu karena tangkai logam, batu bata, dan batu yang menghantam wajah," kata dr Mona Mina, yang bekerja di klinik di dekat Masjid Omar Makram tersebut kepada kantor berita Reuters 




Jumlah korban, tambah dr Mona, diperkirakan lebih besar ketimbang yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Mesir, termasuk banyak orang yang luka ringan.
Menteri Kesehatan Mesir Ahmed Farid, sebagaimana dikutip oleh saluran satelit al-Arabiya, sebelumnya mengatakan, 3 orang tewas dan 611 orang terluka dalam bentrokan itu.



Dari Berbagai Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar